Written By Mozalora on Senin, 07
November 2011 | 05.19
Nama Pulau
Flores berasal dari Bahasa Portugis “Copa de Flores” yang berarti “ Tanjung
Bunga”. Nama ini diberikan oleh S.M.Cabot untuk menyebut wilayah paling timur
dari Pulau Flores. Nama ini secara resmi dipakai sejak tahun 1636 oleh Gubernur
Jendral Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores sudah dipakai hampir empat
abad. Lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) nama asli Pulau Flores adalah
Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular.
Sejarah
masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai
kelompok etnis. Masingmasing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan
pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara
utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, etnis
di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996) adalah sebagai berikut:
Etnis Manggarai
- Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan
Mbaen);
Etnis Ngadha-Lio
(terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue,
Ende dan Lio);
Etnis Mukang
(meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang);
Etnis Lamaholot
(meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot
Tengah);
Etnis Kedang
(yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).
Masyarakat
Manggarai Barat merupakan bagian dari masyarakat Manggarai. Pada zaman
reformasi, Manggarai mengalami perubahan, dengan melakukan pemekaran wilayah
menjadi Manggarai dan Manggarai Barat. Perubahan ini terjadi pada tahun 2003.
Pemekaran wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Sehingga secara historis antara masyarakat Manggarai dan Manggarai Barat tidak
dapat dipisahkan diantara keduanya.
Masyarakat
Manggarai (termasuk masyarakat Manggarai Barat) merupakan bagian dari enam
kelompok etnis di Pulau Flores seperti diuraikan di atas. Manggarai adalah
bagian dari Manggarai-Riung. Dalam masyarakat tradisional Manggarai termasuk
Manggarai Barat terdiri dari 38 kedaluan (hameente), yakni: Ruteng, Rahong,
Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkir, Pocoleok, Sita, Torokgolo,
Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis,
Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak,
Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau
kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu
bagaimana nenek moyangnya datang dari laut/seberang, bagaimana nenek moyangnya
turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya
serta titisannya.
Manggarai
(termasuk Manggarai Barat) Sampai Abad XIX
Seperti daerah
lain di NTT, Manggarai juga mendapat pengaruh pengembaraan dari orang-orang
dari seberang, seperti Cina, Jawa, Bugis, Makasar, Belanda dan sebagainya.
Cina
Pengaruh Cina
cukup kuat dan merata di seluruh propinsi NTT. Di Manggarai, pengaruh Cina
dibuktikan dengan ditemukannya barang-barang Cina seperti guci, cermin,
perunggu, uang cina dan sebagainya. Pengaruh Cina dimulai sejak awal masehi.
Dari benda-benda yang ditemukan di Warloka terdapat sejumlah benda antik dari
Dinasti Sung dan Ming, dibuat antara tahun 960 sampai tahun 1644.
Jawa
Pengaruh Jawa
terutama berlangsung pada masa Hindu. Di Timo, pada tahun 1225 telah ada utusan
dari Jawa. Diberbagai daerah di NTT ditemukan mitos mengenai Madjapahit.
Sedangkan di Manggarai, label Jawa jadi toponimi di beberapa tempat, seperti
Benteng Jawa.
Bugis, Makasar,
Bima.
Pengaruh Bugis,
Makasar di NTT termasuk luas, di Flores, Solor, Lembata, Alor dan Pantar.
Kesultanan Goa.
Sekitar tahun 1666, orang-orang Makasar, Sultan Goa, tidak hanya menguasai
Flores Barat bagian selatan, tetapi juga seluruh Manggarai. Mereka menyetorkan
upeti / pajak ke Sultan Goa. Kesultanan Goa berjaya di Flores sekitar tahun
1613 –1640. Pengaruh Goa nampak diantaranya pada budaya baju bodo dan
pengistilahan Dewa Tertinggi Mori Kraeng. Dalam peristilahan harian, kata
Kraeng dikenakan bagi para ningrat. Istilah tersebut mengingatkan gelar Kraeng
atau Daeng dari gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan.
Kesultanan Bima.
Pada tahun 1722, Sultan Goa dan Bima berunding. Hasil perundingan, daerah
Manggarai diserahkan kepada Sultan Bima sebagai mas kawin. Sementara itu, di
Manggarai muncul pertentangan antara Cibal dan Todo. Tak pelak, meletus
pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot, yang
dimenangkan Cibal. Pertentangan antara Cibal dan Todo, kemudian melahirkan
Perang Weol I, Perang Weol II dan Perang Bea Loli (Wudi). Perang Weol
Ikemenangan di pihak Cibal. Tetapi dalam perang Weol II dan Perang Bea Loli,
Cibal mengalami kekalahan. Bima saat itu membantu Todo. Kenyataan ini
mengkokohkan posisi Bima di Manggarai, hingga masuknya pengaruh ekspedisi
Belanda pertama tahun 1850 dan ekspedisi kedua tahun 1890 dibawah pimpinan
Meerburg. Ekspedisi yang terakhir pada tahun 1905 dibawah Pimpinan
H.Christofel. Kehadiran Belanda di Manggarai, membuahkan perlawanan sengit
antara Belanda dan rakyat Manggarai di bawah Pimpinan Guru Amenumpang yang
bergelar Motang Rua tahun 1907 dan 1908. Namun sebelum menghadapi perlawanan
Motang Rua, Belanda mendapat perlawanan dari Kraeng Tampong yang akhirnya tewas
ditembak Belanda dan dikuburkan di Compang Mano.
Selain
Kesultanan Goa dan Bima,
Kerajaan lain
yang pernah berkuasa di Manggarai adalah Kerajaan Cibal, Kerajaan Lambaleda,
Kerajaan Todo, Kerajaan Tana Dena dan Kerajaan Bajo. Pada saat ini bukti
serajah tentang kerajaan tersebut yang masih tersisa adalah Kerajaan Todo,
walaupun kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Referensi tentang penelusuran
tentang kerajaan-kerajaan Manggarai sulit untuk didapatkan.
Belanda.
Pengaruh Belanda
ada sejak adanya 3 kali ekspedisi Belanda ke Manggarai, yaitu tahun 1850,1890,
dan tahun 1905. Pengaruh Belanda di Manggarai terutama pada didirikannya
sekolah-sekolah dan agama Katolik.
Penyebaran agama
Islam
Pada abad ke-16,
Belanda berekspansi ke Flores Barat untuk menguasai Manggarai. Penguasaan
Manggarai tidak dilakukan secara langsung oleh Belanda, tetapi melalui Kerajaan
Goa yang berkedudukan di Makasar. Jadi, Manggarai di bawah kekuasaan Kerajaan
Goa. Saat itu orang orang Sulawesi memang telah memeluk agama Islam. Kehadiran
Kerajaan Goa di Manggarai tidak menyebarkan agama. Kerajaan Goa hanya
menjalankan pemerintahan yang digariskan Belanda. Meski demikian, secara
kultural, simbol-simbol islamik dan doa-doa tradisional, khususnya, banyak
dipengaruhi tradisi islamik Goa dan Bima. Ada beberapa istilah yang sama antara
orang Sulawesi, Bima, dan Manggarai, atau kemungkinan istilah itu berasal dari
bahasa Makasar-Bugis, seperti kraeng sebagai gelar bangsawan di wilayah
Kerajaan Goa. Istilah itu digunakan pula untuk gelar bangsawan di Manggarai
sampai sekarang. Mori, sengaji yang berarti Tuhan dalam bahasa Goa, juga
mengandung arti yang sama di Manggarai. Kata kreba (kabar), rodong (sejenis
kerudung yang hanya dipakai wanita), sa dako (sedikit atau segenggam), sebuah
istilah yang biasa merujuk pada perilaku adil terhadap sesama. Selain itu,
dikenal pula simbol-simbol dalam cara berpakaian. Orang Manggarai, terutama
kaum pria, hanya merasa sah atau percaya diri, jika ia mengenakan peci hitam.
Peci dan sarung sebagai pakaian resmi yang biasa digunakan dalam penampilanpesta
atau acara ritual, termasuk mengikuti ritual misa di gereja. Cara berpakaian
dan jenis pakaian seperti menjadi lambang kemanggaraian. Dari ciri kultural
tersebut, orang Manggarai lebih dekat dengan Sape dan Bima di Nusa Tenggara
Barat ketimbang suku bangsa Ngada, atau Ende, atau suku bangsa lain di Flores.
Ditemukan pula gejala parabahasa untuk berdoa secara islamik.
Penyebaran agama
Katholik Roma.
Kristianitas, khususnya Katholik, sudah dikenal
penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali
di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk
mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun
sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat Kota Larantuka. Tahun 1577
saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37).
Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar besaran penduduk Melayu Kristen ke
Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah
kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau
Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores
(termasuk ke daerah Manggarai dan Manggarai Barat) dan Timor. Dengan demikian,
berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat
Pulau Flores memeluk agama Katholik. Penyebaran ini banyak dilakukan melalui
peningkatan pendidikan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar