EFEK
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE INTEGRATE READING AND COMPOSITION DALAM PENINGKATAN
PEMAHAMAN MEMBACA INTENSIF PADA SISWA KELAS IV SDK KRADO KECAMATAN BOLA
KABUPATEN SIKKA
KARYA ILMIAH
Dipublikaskan untuk memenuhi salah
satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar
(S.Pd.SD)
OLEH
VINSEN SUYONO
SAY
NIM: 818 016 204
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH
DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TERBUKA
2013
ABSRAK
Kemampuan
berpikir kritis mempunyai peranan yang sangat strategis
dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik berkewajiban
mengkondisikan pembelajaran agar tercipta suasana yang mendukung murid untuk
peningkatan pemahaman. Salah satu model pembelajarannya
adalah model pembelajaran Cooperative Integrated
Reading And Composition (CIRC). Model pembelajaran ini merupakan pengajaran kooperatif terpadu
membaca dan menulis yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap
untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas tinggi sekolah dasar.
Membaca intensif
merupakan kegiatan membaca bacaan secara teliti dan seksama dengan tujuan
memahaminya secara rinci.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh (efek) model
pembelajaran CIRC terhadap kemampuan murid dalam membaca intensif.
Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
statistik deskriptif dalam bentuk analisis presentase.
Berdasarkan
analisis hasil model pembelajaran CIRC
dapat meningkatkan pemahaman membaca intensif murid.
Oleh
karena itu diasarankan pada guru-guru kelas IV dengan murid berlatar belakang
sama atau mirip dengan kelas terteliti untuk menggunakan model CIRC pada
pelajaran membaca baik pada tahap proses pelaksanaan, maupun tahap
penilaian.
Kata kunci:
Model Pembelajaran CIRC, Membaca Intensif
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penerapan Model CIRC
Dalam
upaya peningkatkan kualitas manusia dibutuhkan suatu proses pembelajaran melaui
pendidikan. Pendidikan merupakan modal bagi murid, agar dapat menghadapi
tantangan global dan menyiapkan masa depannya maupun masa depan bangsa. Untuk
itu perlu kita sadari bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam
menghadapi tantangan global baik itu dalam bersaing maupun dalam berprestasi.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar murid secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, aklhak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan
masyarakat.
Di dalam pengajaran bahasa indonesia, ada tiga aspek
yang perlu diperhatikan, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek
psikomotor.
Ketiga
aspek itu berturut-turut menyangkut ilmu pengetahuan, perasaan dan keterampilan
atau kegiatan berbahasa. Kalau pengajaran bahasa terlalu banyak mengotak-atik segi gramatikal saja (teori),
murid akan tahu tentang aturan bahasa, tetapi belum tentu dia dapat
menerapkannya dalam tuturan maupun tulisan dengan baik. Kemampuan murid
terutama dalam membaca pemahaman sangat terasa kurang khususnya di sekolah
tempat penulis mengajar yaitu pada kelas IV SDK Krado Kecamatan Bola Kabupaten
Sikka. Penulis memberikan sebuah teks bacaan kemudian murid diminta untuk
membaca dan menjawab pertanyaan sesuai dengan isi teks bacaan. Dari 8 murid
yang hadir dan mampu menjawab pertanyaan, menceritakan kembali isi teks bacaan
serta memberikan tanggapan yang sesuai dengan isi teks bacaan hanya 5 (Lima)
orang atau sekitar 62,5%, sedangkan sisanya 3 (Tiga) orang atau
sekitar 37,5% kurang memahami dan belum dapat memberikan tanggapan secara baik atas teks bacaan yang telah dibacanya. Hal ini
menunjukan kurangnya pemahaman murid dalam memahami isi teks bacaan.
Banyak
penyebab rendahnya pemahaman murid. Berikut ini beberapa penyebab rendahnya
pemahaman murid pada mata pelajaran bahasa indonesia tentang membaca intensif
sesuai dengan program semester sekolah yang berdasarkan silabus pada saat
peneliti melakukan penelitian yaitu mengenai menemukan kalimat utama dengan
kompetensi dasar menemukan kalimat utama pada tiap paragraf melalui membaca
intensif. Pertama yang menjadi penyebab rendahnya pemahaman murid adalah dari murid
itu sendiri atau faktor intern, Seperti terganggunya kesehatan murid tersebut. Jika kesehatan murid terganggu atau sakit
pasti murid tersebut akan menurun prestasi belajarnya. Kedua faktor yang ada di
luar individu yang berupa pengaruh dari keluarga, sekolah, maupun dari
lingkungan tempat murid tinggal atau faktor ekstern. Kedua faktor tersebut
merupakan penyebab rendahnya pemahaman murid dalam pelajaran membaca.
Guru sebagai
salah satu unsur terpenting dalam proses pembelajaran diharapkan dapat berperan
serta secara aktif sebagai tenaga edukatif yang professional, sebagai tuntutan
profesinya untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas murid dalam proses pembelajaran. Hal inilah yang
mendorong para pendidik untuk mengubah bentuk kegiatan pembelajarannya.
Dalam
proses pelaksanaan pembelajaran, guru merupakan faktor utama dalam kegiatan belajar mengajar. Guru
mempunyai peran yang sangat penting dalam kelangsungan proses pendidikan karena
guru merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam setiap aktivitas
pendidikan. Setiap guru seharusnya dapat mengajar di depan kelas. Bahkan
mengajar itu dapat dilakukan pula dalam sekelompok murid di luar kelas atau
dimana saja. Setiap guru harus pandai menerapkan model-model pembelajaran yang
tepat sesuai karakter murid. Guru dan murid ibarat sebuah mata uang logam yang
memiliki sisi berbeda tetapi saling mendukung satu sama lain. Guru tidak akan
melaksanakan kegiatan mengajar apabila tidak memiliki murid yang perlu
memperoleh pengajaran, sebaliknya murid tidak akan memperoleh pelajaran apabila
tidak diberi pengajaran dan bimbingan dari guru.
Dari
masalah-masalah yang timbul dalam proses pembelajaran yang telah disebutkan di
atas, maka penulis berpendapat mengganti metode pembelajaran yang terdahulu
dengan suatu model pembelajaran yang dianggap lebih cocok dan mempermudah murid dalam memahami isi teks
bacaan. Oleh karena itu penulis mencoba menerapkan model Cooperative Integrate
Reading and Composition untuk meningkatkan kemampuan murid dalam membaca pemahaman di kelas IV SDK Krado.
Berdasarkan
uraian dari latar belakang di atas maka dalam penelitian ini peneliti
memberikan judul “Efek Penerapan Model
Cooperatif Integrate Reading and Composition (CIRC) Untuk Peningkatan Pemahaman
Membaca Intensif Murid Kelas IV SDK Krado”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka
penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah
peningkatan pemahaman membaca intensif murid dengan diterapkannya model CIRC?
2. Bagaimanakah
pengaruh (efek) metode CIRC terhadap
motivasi belajar murid?
C.
Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan
permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Ingin
mengetahui peningkatan pemahaman membaca intensif murid setelah diterapkannya
pembelajaran model CIRC.
2. Ingin
mengetahui pengaruh (efek) motivasi
belajar murid setelah diterapkan pembelajaran model CIRC.
D.
Manfaat
Penelitian
1. Manfaat
teoritis
Diharapkan hasil penelitian ini
bisa menjadi bahan dan acuan untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
2.
Manfaat praktis
a. Bagi
murid
1) Meningkatnya
kemampuan murid dalam pemahaman bacaan.
2) Mengembangkan
kemampuan murid untuk menyelesaikan sosal-soal yang berhubungan dengan bacaan
serta dapat menceritakan kembali bahan bacaan tersebut.
3) Meningkatkan
hasil belajar murid
b.
Bagi guru
1)
Memberikan
informasi kepada guru tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi
pelajaran bahasa indonesia.
2) Sebagai
salah satu bahan pustaka bagi guru agar dapat meningkatkan hasil belajar murid.
c.
Bagi sekolah
Sekolah sebagai
penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar murid khususnya
pelajaran bahasa indonesia.
KAJIAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Model Pembelajaran CIRC
CIRC singkatan
dari Cooperative Integrated Reading and composition, termasuk salah satu model
pembelajaran Cooperative Learning yang pada mulanya merupakan pengajaran
kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8)
yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran
membaca dan menulis untuk kelas tinggi sekolah dasar.
Terjemahan bebas dari Cooperative Integrate
Reading and Composition (CIRC) adalah komposisi terpadu membaca dan menulis
secara koperatif-kelompok. Model pembelajaran CIRC (koperatif terpadu membaca dan menulis)
merupakan model pembelajaran khusus mata pelajaran bahasa indonesia dalam
rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau, tema sebuah
wacana/kliping.
Pembelajaran
CIRC dikembangkan oleh Stevans Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran
kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model
pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan
suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian
yang penting.
Model pembelajaran CIRC ini dapat dikategorikan
pembelajaran terpadu. Menurut Forgati (1991) berdasarkan sifat keterpaduannya,
pembelajaran terpadu dapat dikelompokan menjadi:
(1)
Model
dalam satu disiplin ilmu yang meliputi Model Connected (keterhubungan) dan model nested.
(2) Model
antar bidang studi yang meliputi model Sequenced (urutan), Model Shared
(perpaduan), Model Webbed (jarring laba-laba), Model Theaded (bergalur) dan
Model Integreted (terpadu).
(3) Model
lintas murid.
Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu
setiap murid bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok
saling mengeluarkan ide-ide untuk
memahami konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman
yang baru dan pemahaman yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami
perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah.
Proses pembelajaran ini mendidik murid
berinteraksi sosial dengan lingkungan.
Prinsip belajar terpadu ini sejalan dengan empat
pilar pendidikan yang digariskan UNESCO
dalam kegiatan pembelajaran. Empat pilar itu adalah “belajar untuk mengetahui (learning
to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi diri
sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam kebersamaan ( learning to
live together), (Depdiknas, 2002).
Jadi
CIRC merupakan program yang komprehensif
untuk mengajari pembelajaran membaca, menulis dan seni berbahasa pada kelas
yang lebih tinggi di sekolah dasar.
1.
Komponen-komponen
dalam model pembelajaran CIRC
a.
Teams, yaitu pembentukan kelompok
heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 murid.
b.
Placement test, misalnya diperoleh dari
rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai raport agar
guru mengetahui kelebihan dan kelemahan
pada bidang tertentu.
c.
Student creative, melaksanakan tugas
dalam kelompok dengan menciptakan
situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh
keberhasilan kelompoknya.
d.
Team studi, yaitu tahapan tindakan
belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuaan
kepada kelompok yang membutuhkannya.
e.
Team scorermand team recognition, yaitu
pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan pengharagaan terhadap kelompok yang berhasil secara
cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan
tugas.
f.
Teaching group, yakni memberikan materi
secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
g.
Facts test atau ulangan berdasarkan fakta
yang diperoleh siswa.
h.
Whole-class units, yaitu pemberian
atau rangkuman materi oleh guru diakhir
waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
2.
Kegiatan
pokok pembelajaran CIRC
a.
Salah satu anggota atau beberapa
kelompok membaca soal.
b.
Membuat prediksi atau menafsirkan isi
soal pemecahan masalah.
c.
Saling membuat ikhtisar / rencana
penyelesaian soal pemecahan masalah.
d.
Menuliskan penyelesaian soal pemecahan
masalah secara urut.
e.
Saling merevisi dan mengedit
pekerjaan/penyelesaian (Suyitno,2005:4).
Model pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu
menurut pertama kali dikembangkan oleh (Steven and Slavin, 1981) dengan
langkah-langkah:
1)
Membentuk kelompok yang anggotanya 4
orang yang secara heterogen
2)
Guru memberikan wacana sesuai dengan topik
pembelajaran
3)
Murid bekerja sama saling membacakan dan
memberikan tanggapan terhadap wacana dan
ditulis pada lembar kertas.
4)
Mempresentasikan/membacakan hasil
kelompok.
5)
Guru memberikan penguatan
6)
Guru dan murid bersama-sama membuat
kesimpulan
7)
Penutup
3.
Kelebihan
model pembelajaran CIRC.
Kelebihan dari
model pembelajaran terpadu atau CIRC
antara lain:
a.
Pengalaman
dan kegiatan belajar murid akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan
anak;
b. Kegiatan
yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat murid dan kebutuhan anak;
c. Seluruh
kegiatan belajar lebih bermakna bagi murid sehingga hasil belajar murid dapat
bertahan lebih lama;
d. Pembelajaran
terpadu dapat menumbuhkembangkan keterampilan berpikir anak;
e. Pembelajaran
terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis (bermanfaat) sesuai dengan
permasalahan yang sering ditemui dalam lingkungan anak;
f.
Pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan
motivasi belajar murid kearah belajar yang dinamis, optimal dan tepat guna;
g. Menumbuhkembangkan
interaksi sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi dan respek
terhadap gagasan orang lain;
h. Membangkitkan
motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam mengajar (Saifulloh,
2003).
4.
Kekurangan
model pembelajaran CIRC.
Kekurangan model pembelajaran CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition), adalah selama diskusi kelompok
berlangsung ada kecenderungan permasalahan materi semakin meluas hingga banyak
yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
B. Pengertian Membaca Intensif
Menurut Tarigan (1990:37) ada tiga
jenis keterampilan membaca pemahaman yaitu : 1). Membaca Literal, 2). Membaca kritis, dan 3). Membaca
Kreatif.
1.
Kemampuan membaca Literal adalah
kemapuan membaca untuk mengenal dan menangkap isi bacaan yang tertera secara
tersurat (Eksplisit). Artinya pembaca hanya menangkap informasi yang tercetak
literal (tampak jelas) dalam bacaan. informasi tersebut ada dalam baris-baris
bacaan (Reading The Lines). pembaca tidak mengkap makna yang lebih dalam lagi,
yaitu makna di balik baris-baris. Yang termasuk di dalam keterampilan membaca
literal antara lain keterampilan :
a.
Mengenal kata,kalimat dan paragraf.
b.
Mengenal unsur detail, unsur perbandingan dan unsur
utama.
c.
Mengelan unsur hubungan sebab akibat.
d.
Menjawab pertanyaan.
e.
Menyatakan kembali usur perbandingan, unsur urutan,
dan unsur sebab akibat.
2.
Kemampuan membaca Kritis merupakan
kemampuan pembaca untuk mengolah bahan bacaan secara Kritis dan menemukan
keseluruhan makna bahan bacaan, baik maknan tersurat, maupun makna tersirat.
Mengolah bahan bacaan secara Kritis artinya, dalam membaca seorang pembaca
tidak hanya menangkap makna tersurat (Makna baris-baris bacaan, (Reading The
Lines), tetapi juga menemukan makna antar baris (Reading Between The Lines),
dan makna di balik baris (Reading Beyons The Lines).
3.
Kemampuan
Membaca kreatif adalah
kegiatan membaca yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar
baris tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk
kehidupan sehari-hari.
Selaian ketiga kemampuan membaca pemahaman tersebut di atas, yang termasuk
membaca pemahaman antara lain juga membaca cepat. Jenis membaca ini bertujuan
agar pembaca dalam waktu singkat dapat memahami isi bacaan secara cepat dan
cermat. Jenis membaca ini dilaksanakan tanpa suara (membaca dalam hati).Bahan
bacaan yang dibrikan untuk kegiatan ini harus baru (belum perna diberikan
kepada siswa) dan tidak boleh terdapat banyak kata-kata sukar,
ungkapan-ungkapan yang baru, atau kalimat yang kompleks. kalau ternyata ada
guru harus memberikan penjelasan terlebih dahulu agar murid terbebas dari
kesulitan memahami isi bacaan karena terganggu oleh masalah kebahasaan.
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN
PEMBELAJARAN
A. Subyek, tempat dan waktu penelitian
1.
Subyek
2.
Tempat
Tempat
pelaksanaan penelitian ini adalah SDK Krado yang terletak di Desa Ipir
Kecamatan Bola Kabupaten Sikka.
3.
Waktu penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan selama tiga bulan yaitu dari bulan Januari sampai bulan Maret
2013.
B. Desain prosedur perbaikan
pembelajaran
Prosedur
perbaikan pembelajaran dilakukan dalam
berbagai tahap seperti berikut :
1. Tahap
perencanaan perbaikan pembelajaran
Sebelum melaksanakan tindakan maka
perlu tindakan persiapan. Kegiatan pada tahap ini adalah :
·
Penyusunan RPP dengan model pembelajaran
yang direncanakan dalam penelitian.
·
Menyusun lembar masalah/lembar kerja
murid sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai.
·
Membuat soal test yang akan diuji untuk
mengetahui hasil pembelajaran murid.
·
Membentuk kelompok yang bersifat
heterogen baik dari segi kemampuan akademis, jenis kelamin maupun etnis.
·
Memberikan penjelasan pada murid mengenai teknik pelaksanaan model
pembelajaran yang akan dilaksanakan.
2. Pelaksanaan
tindakan.
a.
Dalam
pelaksanaan penelitian guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, murid
dibimbing untuk belajar membaca pemahaman secara individual maupun kelompok
dengan model pembelajaran CIRC.
Adapun
langkah langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Membentuk
kelompok yang anggotanya 4 orang murid secara
heterogen.
Ø Guru
memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
Ø Murid
bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan
terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
Ø Mempresentasikan/membacakan
hasil kelompok.
Ø Guru
dan murid membuat kesimpulan bersama.
b.
Kegiatan penutup
Di akhir pelaksanaan pembelajaran
pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis untuk mengevaluasi hasil
belajar murid selama proses pembelajaran berlangsung.
3. Tahap
observasi.
Pengamatan
dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan hendaknya pengamat
melakukan kolaborasi dalam pelaksanaannya.
4. Tahap
Refleksi
Refleksi
dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah atau belum terjadi, apa
yang dihasilkan, mengapa hal itu terjadi dan apa yang perlu dilakukan
selanjutnya. Hasil refleksi untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan pada siklus
berikutnya.
C. Teknik analisis data
Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase
keberhasilan murid setelah proses belajar mengajar dilakukan dengan cara memberikan evaluasi
berupa soal tes tertulis pada setiap akhir pelajaran.
Analisis ini dihitung dengan
menggunakan statistik sederhana yaitu:
1. Untuk
menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh murid,
yang selanjutnya dibagi dengan jumlah murid yang ada di kelas tersebut sehingga
diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
Σ X = Jumlah semua nilai murid
Σ
N = Jumlah murid
2. Untuk
ketuntasan belajar
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara
perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar
mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang murid telah tuntas
belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas
belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap
lebih dari sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar
digunakan rumus sebagai berikut:
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian
Perbaikan Pembelajaran
1.
Kegiatan
Pra Siklus
a.
Perencanaan
·
Penyusunan RPP dengan model pembelajaran
yang direncanakan dalam penelitian.
·
Menyusun lembar masalah/lembar kerja murid
sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai.
·
Membuat soal test yang akan diuji untuk
mengetahui hasil pembelajaran murid.
b.
Pelaksanaan
tindakan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk Pra siklus
dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2013 di kelas IV dengan jumlah murid 8 orang.
Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar
mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi)
dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
c.
Pengamatan
Pada akhir proses belajar mengajar murid diberi tes
formatif dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan murid dalam proses
belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus
I adalah sebagai berikut:
Tabel IV.1 : Hasil
Tes Formatif murid Pada Pra Siklus
|
No
|
Nama Murid
|
Nilai
|
KKM
|
Ketuntasan
|
|
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
Petrus
Yodi
|
55,5
|
65
|
|
√
|
|
2
|
Yohanes
Alfandi
|
66,7
|
65
|
√
|
|
|
3
|
Maria
Oliva Diana
|
55,5
|
65
|
|
√
|
|
4
|
Yoseph
Aryanto
|
77,8
|
65
|
√
|
|
|
5
|
Maria
Nona Meti
|
77,8
|
65
|
√
|
|
|
6
|
Fransiska
Infonia
|
44,4
|
65
|
|
√
|
|
7
|
Yoseph
Hertanto
|
77,8
|
65
|
√
|
|
|
|
Yoseph
Yefrison Gewar
|
77,8
|
65
|
√
|
|
|
Jumlah
|
533,3
|
|
5
|
3
|
|
|
Nilai
rata-rata
|
66,7
|
|
|
|
|
|
Jumlah skor 533,3
Jumlah Skor Maksimal Ideal 800
Rata-Rata Skor Tercapai 66,7
|
|||||
Sumber:
Data primer yang telah diolah
Keterangan:
T
: Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
murid yang tuntas : 5
Jumlah
murid yang belum tuntas : 3
Tabel IV.2. Rekapitulasi Hasil Tes Pra Siklus
|
No
|
Uraian
|
Hasil Pra Siklus
|
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah murid yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
66,7
5
62,5
|
Dari tabel di atas
dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar murid adalah 66,7 dan
ketuntasan belajar mencapai 62,5%
atau ada 3 dari 8 murid yang belum
tuntas belajar. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa pada kegiatan pra siklus ini secara klasikal murid belum tuntas belajar, karena presentase murid belum mencapai kriteria yang
telah ditetapkan yaitu harus mencapai 65%. Hal ini disebabkan karena murid
merasa bosan dengan metode yang digunakan guru.
d.
Refleksi
Ada pun keunggulan dan kelemahan
selama kegiatan pembelajaran pra siklus adalah sebagai berikut:
Ø
Kelebihan
- Pengelolaan
kelas sudah baik
- Cara
mengajar/acting di depan kelas sudah baik
- Materi
yang dipilih sesuai dengan kemampuan dasar murid.
Ø Kelemahan
- Ada
3 (tiga) orang yang belum bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan belum
mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
- Penggunaan
metode belum tepat
Dari hasil refleksi pembelajaran pra siklus perlu ditindaklanjuti bagaimana agar murid
yang belum tuntas mampu menjawab pertanyaan dengan baik, maka peneliti mencari
solusi dan mencoba menerapkan sebuah model pembelajaran yang dikenal dengan
model CIRC pada kegiatan berikutnya.
2.
Kegiatan
Silkus I
a.
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti
mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran Siklus
I, LKS, soal tes formatif dan alat-alat pengajaran yang mendukung yaitu
menyiapkan buku-buku pembelajaran yang relevan.
b.
Pelaksanaan
c.
Pengamatan
Pada
akhir proses belajar mengajar murid diberi tes formatif dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan murid selama proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif.. Adapun data hasil
penelitian pada siklus adalah sebagai berikut:
Tabel
IV.3 : Hasil Tes Formatif murid Pada
Siklus I
|
No
|
Nama murid
|
Nilai
|
KKM
|
Ketuntasan
|
|
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
Petrus
Yodi
|
70
|
65
|
√
|
|
|
2
|
Yohanes
Alfandi
|
74
|
65
|
√
|
|
|
3
|
Maria
Oliva Diana
|
70
|
65
|
√
|
|
|
4
|
Yoseph
Aryanto
|
68
|
65
|
√
|
|
|
5
|
Maria
Nona Meti
|
80
|
65
|
√
|
|
|
6
|
Fransiska
Infonia
|
64
|
65
|
|
√
|
|
7
|
Yoseph
Hertanto
|
70
|
65
|
√
|
|
|
8
|
Yoseph
Yefrison Gewar
|
86
|
65
|
√
|
|
|
Jumlah skor 582
Jumlah Skor Maksimal Ideal 800
Rata-Rata Skor Tercapai 72,75
|
|||||
Sumber:
Data primer yang telah diolah
Keterangan:
T
: Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
murid yang belum tuntas : 1
Tabel IV.4. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus I
|
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
72,75
7
87,5
|
Dari tabel di atas
dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan Model CIRC diperoleh nilai rata-rata
prestasi belajar murid adalah 72,75 dan ketuntasan belajar mencapai 87,5% atau ada 1 dari 8 murid yang belum tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama
ini secara klasikal murid sudah mengalami peningkatan belajar, karena murid yang memperoleh nilai
diatas standar yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena murid merasa termotivasi
dengan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan menerapkan model
pembelajaran CIRC.
d.
Refleksi
Ada pun keunggulan dan kelemahan
pada proses pembelajaran siklus I yaitu:
Ø Keunggulan
§ Murid
semangat dalam mengikuti pelajaran
§ Materi
yang dipilih sesuai dengan kemampuan dasar murid
§ Nilai
hasil belajar murid semakin meningkat
§ Murid
dapat menjawab pertanyaan dengan baik sesuai isi bacaan
Ø Kelemahan
§
Penataan
kelas belum tepat
§ Penggunaan
waktu belum maksimal
3.
Kegiatan
Pembelajaran Siklus II
a.
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran Siklus II, LKS , soal tes
formatif, dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.
b.
Pelaksanaan
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 11 Februari
2013 di kelas IV dengan jumlah murid 8 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak
sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran
dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan
pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II Pengamatan (observasi)
dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar
c.
Pengamatan
Pada
akhir proses belajar mengajar murid diberi tes formatif dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan murid dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif. Adapun data hasil
peneitian pada siklusII adalah sebagai berikut:
Tabel IV.5 : Hasil Tes Formatif murid
Pada Siklus II
|
No
|
Nama murid
|
Nilai
|
KKM
|
Ketuntasan
|
|
|
T
|
TT
|
||||
|
|
Petrus
Yodi
|
70
|
65
|
√
|
|
|
2
|
Yohanes
Alfandi
|
78
|
65
|
√
|
|
|
3
|
Maria
Oliva Diana
|
78
|
65
|
√
|
|
|
4
|
Yoseph
Aryanto
|
70
|
65
|
√
|
|
|
5
|
Maria
Nona Meti
|
80
|
65
|
√
|
|
|
6
|
Fransiska
Infonia
|
67
|
65
|
√
|
|
|
7
|
Yoseph
Hertanto
|
70
|
65
|
√
|
|
|
8
|
Yoseph
Yefrison Gewar
|
80
|
65
|
√
|
|
|
Jumlah skor 593
Jumlah Skor Maksimal Ideal 800
Rata-Rata Skor Tercapai 74,12
|
|||||
Keterangan:
T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
murid yang tuntas : 8
Jumlah
murid yang belum tuntas : -
Tabel IV.6.
Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus II
|
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah murid yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
74
8
100
|
Dari tabel di atas
dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan Model CIRC diperoleh nilai rata-rata
prestasi belajar murid adalah 74,12 dan ketuntasan belajar mencapai 100% atau
dari 8 murid sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus
kedua secara klasikal murid sudah tuntas belajar, karena murid yang memperoleh
nilai diatas standar yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena murid merasa
senang dengan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan menerapkan model
pembelajaran CIRC.
d.
Refleksi
Ada pun keunggulan dan kelemahan pada kegiatan
pembelajaran siklus II yaitu:
1.
Keunggulan
§ Murid semangat dalam mengikuti pelajaran
§ Nilai
murid semakin meningkat
§ Pengelolaan
kelas sudah baik
§ Penggunaan
waktu sudah maksimal
2.
Kelemahan
§ Fasilitas
pembelajaran belum mamadai.
2. Kegiatan Pembelajaran Siklus III
a.
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti
mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran Siklus
II, LKS , soal tes formatif, dan
alat-alat pengajaran yang mendukung.
b.
Pelaksanaan
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 04 Maret 2013 di kelas IV dengan jumlah murid 8 orang. Dalam hal
ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu
pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga
kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
mengajar
c.
pengamatan
Tabel 7 : Hasil Tes Formatif Murid
Pada Siklus III
|
No
|
Nama
Murid
|
Nilai
|
KKM
|
Ketuntasan
|
|
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
Petrus
Yodi
|
75
|
65
|
√
|
|
|
2
|
Yohanes
Alfandi
|
90
|
65
|
√
|
|
|
3
|
Maria
Oliva Diana
|
78
|
65
|
√
|
|
|
4
|
Yoseph
Aryanto
|
87
|
65
|
√
|
|
|
5
|
Maria
Nona Meti
|
100
|
65
|
√
|
|
|
6
|
Fransiska
Infonia
|
75
|
65
|
√
|
|
|
7
|
Yoseph
Hertanto
|
75
|
65
|
√
|
|
|
8
|
Yoseph
Yefrison Gewar
|
100
|
65
|
√
|
|
|
Jumlah
|
680
|
|
8
|
0
|
|
|
Nilai
rata-rata
|
85
|
|
|
|
|
|
Jumlah
skor 680
Jumlah Skor Maksimal Ideal 800
Rata-Rata
Skor Tercapai 85
|
|||||
Keterangan:
T : Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah Murid yang tuntas : 8
Jumlah Murid yang belum tuntas : -
Tabel 8.
Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus III
|
|
1
3
|
Nilai
rata-rata tes formatif
Jumlah
Murid yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
85
8
100
|
Dari tabel di atas
dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan Model CIRC diperoleh nilai rata-rata
prestasi belajar Murid adalah 85 dan ketuntasan belajar mencapai 100% atau dari
8 Murid sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus Ketiga
secara keseluruhan murid sudah tuntas belajar, karena Murid yang memperoleh
nilai diatas standar yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena Murid
merasa senang dengan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan menerapkan
model pembelajaran CIRC.
d.
Refleksi
Pada tahap ini akah
dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik
dalam proses belajar mengajar dengan penerapan Model CIRC. Dari data-data yang telah diperoleh dapat
duraikan sebagai berikut:
1)
Selama proses belajar
mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada
beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk
masing-masing aspek cukup besar.
2)
Berdasarkan data
hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.
3)
Kekurangan pada
siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga
menjadi lebih baik.
4)
Hasil belajar murid
pada siklus III mencapai
ketuntasan.
3. Kesimpulan
B. Pembahasan Hasil Perbaikan
Pembelajaran
1.
Ketuntasan Hasil
belajar Siswa
Melalui
hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran CIRC memiliki dampak positif dalam peningkatan
pemahaman murid dalam membaca intensif. Hal ini dapat dilihat dari semakin
mantapnya pemahaman murid terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan
belajar meningkat dari sklus I, II, dan III), yaitu nilai rata-rata kelas masing-masing dibulatkan
menjadi 73,75, dan 85. Pada siklus III
ketuntasan belajar Murid secara keseluruhan telah tercapai.
2.
Kemampuan Guru
dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis
data, diperoleh aktivitas Murid dalam proses pembelajaran Model CIRC dalam
setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap
prestasi belajar murid yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai
rata-rata Murid pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3.
Aktivitas Guru
dan Murid Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis
data, diperoleh aktivitas Murid dalam proses pembelajaran membaca pada pokok
bahasan menemukan kalimat utama dalam paragraf yang paling dominan adalah
bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan
guru, dan diskusi antar murid/antara murid dengan guru. Jadi dapat dikatakan
bahwa aktivitas murid dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru
selama pembelajaran telah melaksanakan langah-langkah pembelajaran model CIRC
dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya
aktivitas membimbing dan mengamati murid dalam mengerjakan kegiatan LKS/menemukan
konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan
balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup
besar.
SIMPULAN DAN SARAN
TINDAK LANJUT
A.
Simpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Penerapan
model pembelajaran CIRC dapat dilaksanakan
dengan baik sesuai rencana pembelajaran
2) Penerapan
model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan murid dalam menemukan ide
pokok pada setiap paragraf.
Model
pembelajaran ini sangat bagus dipakai karena dengan menggunakan model ini murid dapat memahami secara langsung
peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan dengan materi yang di jelaskan.
B. Saran Dan Tindak Lanjut.
Saran
peneliti ditunjukan kepada:
1) Bagi
murid, agar dapat mengembangkan keterampilan membaca pemahaman menemukan ide
pokok dari setiap paragraf.
2) Bagi
guru, agar model pembelajaran CIRC dalam
pembelajaran bahasa indonesia pada materi lain.
3) Bagi
peneliti lain , mencoba model ini dengan materi lain dan dapat mengembangkan
penelitian ini lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Anggoro,
M. Toha, dkk. (2009). Materi Pokok Metode
Penelitian IDIK 4306 edisi 2 cetakan 11.
Jakarta : Universitas Terbuka
Fajri,
M. Zul,dkk (2008). Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia. Semarang:
Aneka Ilmu.
Gordon,
(2002). Metode Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : PT Rineka
Kamidjan,
1996. Membaca Teori. Surabaya: JPBSI FPBS IKIP Surabaya
Mulyati,
Yeti, dkk. (2008) Materi Pokok
Katerampilan Bahasa Indonesia PDGK 4101 Cet.3. Jakarta : Universitas
Terbuka
Nasution,
S. (2000). Didaktik Azas Mengajar.
Bandung: bumi aksara.
Suriansyah,
A. Dkk. (2009) Bahan ajar cetak strategi
pembelajaran. Banjarmasin
Suyitno,
Amin (2005) Mengadopsi Pembelajaran CIRC
Dalam Meningkatkan Keterampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. Seminar
nasional F.MIPA UNNES
Syafi’ie,
Imam. 1994. Pengajaran Membaca Terpadu.
Bahan kursus pedalaman materi guru inti PKG Bahasa dan Sastra Indonesia.
Malang: IKIP
http://artikelkependidikan.blogspot.com diakses 05 Nov
2013
modelpembelajarankooperatif.blogspot.com/2012/08/circ.html
Webliogask.blogspot.com/2012/08
model pembelajaran CIRC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar