Minggu, 02 Maret 2014

Written By Mozalora on Senin, 07 November 2011 | 05.19

Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis “Copa de Flores” yang berarti “ Tanjung Bunga”. Nama ini diberikan oleh S.M.Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini secara resmi dipakai sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores sudah dipakai hampir empat abad. Lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular.

Sejarah masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnis. Masingmasing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996) adalah sebagai berikut:

Etnis Manggarai - Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen);

Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio);

Etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang);
Etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah);
Etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).
Masyarakat Manggarai Barat merupakan bagian dari masyarakat Manggarai. Pada zaman reformasi, Manggarai mengalami perubahan, dengan melakukan pemekaran wilayah menjadi Manggarai dan Manggarai Barat. Perubahan ini terjadi pada tahun 2003. Pemekaran wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga secara historis antara masyarakat Manggarai dan Manggarai Barat tidak dapat dipisahkan diantara keduanya.

 
Masyarakat Manggarai (termasuk masyarakat Manggarai Barat) merupakan bagian dari enam kelompok etnis di Pulau Flores seperti diuraikan di atas. Manggarai adalah bagian dari Manggarai-Riung. Dalam masyarakat tradisional Manggarai termasuk Manggarai Barat terdiri dari 38 kedaluan (hameente), yakni: Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkir, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut/seberang, bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya serta titisannya.




Manggarai (termasuk Manggarai Barat) Sampai Abad XIX



Seperti daerah lain di NTT, Manggarai juga mendapat pengaruh pengembaraan dari orang-orang dari seberang, seperti Cina, Jawa, Bugis, Makasar, Belanda dan sebagainya.


Cina
Pengaruh Cina cukup kuat dan merata di seluruh propinsi NTT. Di Manggarai, pengaruh Cina dibuktikan dengan ditemukannya barang-barang Cina seperti guci, cermin, perunggu, uang cina dan sebagainya. Pengaruh Cina dimulai sejak awal masehi. Dari benda-benda yang ditemukan di Warloka terdapat sejumlah benda antik dari Dinasti Sung dan Ming, dibuat antara tahun 960 sampai tahun 1644.
Jawa

Pengaruh Jawa terutama berlangsung pada masa Hindu. Di Timo, pada tahun 1225 telah ada utusan dari Jawa. Diberbagai daerah di NTT ditemukan mitos mengenai Madjapahit. Sedangkan di Manggarai, label Jawa jadi toponimi di beberapa tempat, seperti Benteng Jawa.


Bugis, Makasar, Bima.
Pengaruh Bugis, Makasar di NTT termasuk luas, di Flores, Solor, Lembata, Alor dan Pantar.
Kesultanan Goa. Sekitar tahun 1666, orang-orang Makasar, Sultan Goa, tidak hanya menguasai Flores Barat bagian selatan, tetapi juga seluruh Manggarai. Mereka menyetorkan upeti / pajak ke Sultan Goa. Kesultanan Goa berjaya di Flores sekitar tahun 1613 –1640. Pengaruh Goa nampak diantaranya pada budaya baju bodo dan pengistilahan Dewa Tertinggi Mori Kraeng. Dalam peristilahan harian, kata Kraeng dikenakan bagi para ningrat. Istilah tersebut mengingatkan gelar Kraeng atau Daeng dari gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan.
Kesultanan Bima. Pada tahun 1722, Sultan Goa dan Bima berunding. Hasil perundingan, daerah Manggarai diserahkan kepada Sultan Bima sebagai mas kawin. Sementara itu, di Manggarai muncul pertentangan antara Cibal dan Todo. Tak pelak, meletus pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot, yang dimenangkan Cibal. Pertentangan antara Cibal dan Todo, kemudian melahirkan Perang Weol I, Perang Weol II dan Perang Bea Loli (Wudi). Perang Weol Ikemenangan di pihak Cibal. Tetapi dalam perang Weol II dan Perang Bea Loli, Cibal mengalami kekalahan. Bima saat itu membantu Todo. Kenyataan ini mengkokohkan posisi Bima di Manggarai, hingga masuknya pengaruh ekspedisi Belanda pertama tahun 1850 dan ekspedisi kedua tahun 1890 dibawah pimpinan Meerburg. Ekspedisi yang terakhir pada tahun 1905 dibawah Pimpinan H.Christofel. Kehadiran Belanda di Manggarai, membuahkan perlawanan sengit antara Belanda dan rakyat Manggarai di bawah Pimpinan Guru Amenumpang yang bergelar Motang Rua tahun 1907 dan 1908. Namun sebelum menghadapi perlawanan Motang Rua, Belanda mendapat perlawanan dari Kraeng Tampong yang akhirnya tewas ditembak Belanda dan dikuburkan di Compang Mano.


Selain Kesultanan Goa dan Bima,

Kerajaan lain yang pernah berkuasa di Manggarai adalah Kerajaan Cibal, Kerajaan Lambaleda, Kerajaan Todo, Kerajaan Tana Dena dan Kerajaan Bajo. Pada saat ini bukti serajah tentang kerajaan tersebut yang masih tersisa adalah Kerajaan Todo, walaupun kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Referensi tentang penelusuran tentang kerajaan-kerajaan Manggarai sulit untuk didapatkan.
Belanda.

Pengaruh Belanda ada sejak adanya 3 kali ekspedisi Belanda ke Manggarai, yaitu tahun 1850,1890, dan tahun 1905. Pengaruh Belanda di Manggarai terutama pada didirikannya sekolah-sekolah dan agama Katolik.


Penyebaran agama Islam

Pada abad ke-16, Belanda berekspansi ke Flores Barat untuk menguasai Manggarai. Penguasaan Manggarai tidak dilakukan secara langsung oleh Belanda, tetapi melalui Kerajaan Goa yang berkedudukan di Makasar. Jadi, Manggarai di bawah kekuasaan Kerajaan Goa. Saat itu orang orang Sulawesi memang telah memeluk agama Islam. Kehadiran Kerajaan Goa di Manggarai tidak menyebarkan agama. Kerajaan Goa hanya menjalankan pemerintahan yang digariskan Belanda. Meski demikian, secara kultural, simbol-simbol islamik dan doa-doa tradisional, khususnya, banyak dipengaruhi tradisi islamik Goa dan Bima. Ada beberapa istilah yang sama antara orang Sulawesi, Bima, dan Manggarai, atau kemungkinan istilah itu berasal dari bahasa Makasar-Bugis, seperti kraeng sebagai gelar bangsawan di wilayah Kerajaan Goa. Istilah itu digunakan pula untuk gelar bangsawan di Manggarai sampai sekarang. Mori, sengaji yang berarti Tuhan dalam bahasa Goa, juga mengandung arti yang sama di Manggarai. Kata kreba (kabar), rodong (sejenis kerudung yang hanya dipakai wanita), sa dako (sedikit atau segenggam), sebuah istilah yang biasa merujuk pada perilaku adil terhadap sesama. Selain itu, dikenal pula simbol-simbol dalam cara berpakaian. Orang Manggarai, terutama kaum pria, hanya merasa sah atau percaya diri, jika ia mengenakan peci hitam. Peci dan sarung sebagai pakaian resmi yang biasa digunakan dalam penampilanpesta atau acara ritual, termasuk mengikuti ritual misa di gereja. Cara berpakaian dan jenis pakaian seperti menjadi lambang kemanggaraian. Dari ciri kultural tersebut, orang Manggarai lebih dekat dengan Sape dan Bima di Nusa Tenggara Barat ketimbang suku bangsa Ngada, atau Ende, atau suku bangsa lain di Flores. Ditemukan pula gejala parabahasa untuk berdoa secara islamik.


Penyebaran agama Katholik Roma.

Kristianitas, khususnya Katholik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat Kota Larantuka. Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37). Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores (termasuk ke daerah Manggarai dan Manggarai Barat) dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katholik. Penyebaran ini banyak dilakukan melalui peningkatan pendidikan masyarakat.


EFEK PENERAPAN MODEL COOPERATIVE INTEGRATE READING AND COMPOSITION DALAM PENINGKATAN PEMAHAMAN MEMBACA INTENSIF PADA SISWA KELAS IV SDK KRADO KECAMATAN BOLA KABUPATEN SIKKA

KARYA ILMIAH

Dipublikaskan untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (S.Pd.SD)











OLEH
VINSEN SUYONO SAY
NIM: 818 016 204

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TERBUKA
2013



EFEK PENERAPAN MODEL COOPERATIVE INTEGRATE READING  AND COMPOSITION (CIRC) UNTUK PENINGKATAN PEMAHAMAN  MEMBACA INTENSIF  MURID KELAS IV SDK KRADO KECAMATAN BOLA KABUPATEN SIKKA

Vinsen Suyono Say, 818016204, sayvinsensuyono@gmail.com

ABSRAK
Kemampuan berpikir kritis mempunyai peranan yang sangat strategis dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik berkewajiban mengkondisikan pembelajaran agar tercipta suasana yang mendukung murid untuk peningkatan pemahaman. Salah satu model pembelajarannya adalah model pembelajaran Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC). Model pembelajaran ini merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas tinggi sekolah dasar.
Membaca intensif merupakan kegiatan membaca bacaan secara teliti dan seksama dengan tujuan memahaminya secara rinci.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh (efek) model pembelajaran CIRC terhadap kemampuan murid  dalam membaca intensif.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan statistik deskriptif dalam bentuk analisis presentase.
Berdasarkan analisis hasil  model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan pemahaman membaca intensif murid.
Oleh karena itu diasarankan pada guru-guru kelas IV dengan murid berlatar belakang sama atau mirip dengan kelas terteliti untuk menggunakan model CIRC pada pelajaran membaca baik pada tahap proses pelaksanaan, maupun tahap penilaian. 

Kata kunciModel Pembelajaran  CIRC, Membaca Intensif

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Penerapan Model CIRC
Dalam upaya peningkatkan kualitas manusia dibutuhkan suatu proses pembelajaran melaui pendidikan. Pendidikan merupakan modal bagi murid, agar dapat menghadapi tantangan global dan menyiapkan masa depannya maupun masa depan bangsa. Untuk itu perlu kita sadari bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam menghadapi tantangan global baik itu dalam bersaing maupun dalam berprestasi. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar murid secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, aklhak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas sampai sekolah tinggi universitas tidak luput dari pelajaran bahasa indonesia khususnya pemahaman membaca.
Di dalam pengajaran bahasa indonesia, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor.
Ketiga aspek itu berturut-turut menyangkut ilmu pengetahuan, perasaan dan keterampilan atau kegiatan berbahasa. Kalau pengajaran bahasa terlalu banyak  mengotak-atik segi gramatikal saja (teori), murid akan tahu tentang aturan bahasa, tetapi belum tentu dia dapat menerapkannya dalam tuturan maupun tulisan dengan baik. Kemampuan murid terutama dalam membaca pemahaman sangat terasa kurang khususnya di sekolah tempat penulis mengajar yaitu pada kelas IV SDK Krado Kecamatan Bola Kabupaten Sikka. Penulis memberikan sebuah teks bacaan kemudian murid diminta untuk membaca dan menjawab pertanyaan sesuai dengan isi teks bacaan. Dari 8 murid yang hadir dan mampu menjawab pertanyaan, menceritakan kembali isi teks bacaan serta memberikan tanggapan yang sesuai dengan isi teks bacaan hanya 5 (Lima) orang  atau sekitar  62,5%, sedangkan sisanya 3 (Tiga) orang atau sekitar 37,5% kurang memahami dan belum dapat memberikan tanggapan secara baik  atas teks bacaan yang telah dibacanya. Hal ini menunjukan kurangnya pemahaman murid dalam memahami isi teks bacaan.
Banyak penyebab rendahnya pemahaman murid. Berikut ini beberapa penyebab rendahnya pemahaman murid pada mata pelajaran bahasa indonesia tentang membaca intensif sesuai dengan program semester sekolah yang berdasarkan silabus pada saat peneliti melakukan penelitian yaitu mengenai menemukan kalimat utama dengan kompetensi dasar menemukan kalimat utama pada tiap paragraf melalui membaca intensif. Pertama yang menjadi penyebab rendahnya pemahaman murid adalah dari murid itu sendiri atau faktor intern, Seperti terganggunya kesehatan murid tersebut.  Jika kesehatan murid terganggu atau sakit pasti murid tersebut akan menurun prestasi belajarnya. Kedua faktor yang ada di luar individu yang berupa pengaruh dari keluarga, sekolah, maupun dari lingkungan tempat murid tinggal atau faktor ekstern. Kedua faktor tersebut merupakan penyebab rendahnya pemahaman murid dalam pelajaran membaca.
Adapun faktor lain yang menjadi penyebab rendahnya pemahaman murid dalam memahami isi teks bacaan yaitu  disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran guru belum tepat. Belum tepatnya metode pembelajaran yang diperapkan oleh guru di kelas menyebabkan banyak murid yang sulit memahami isi teks bacaan yang diberikan guru. Penulis merasa  metode paling muda dilaksanakan tetapi ternyata tidak cocok dan tidak bisa meningkatkan kemampuan murid dalam memahami isi bacaan. Selama ini penulis belum pernah mencoba model Cooperative, Integrate, Reading and Composition (CIRC) dalam proses pembelajaran murid di kelas IV SDK Krado.
Guru sebagai salah satu unsur terpenting dalam proses pembelajaran diharapkan dapat berperan serta secara aktif sebagai tenaga edukatif yang professional, sebagai tuntutan profesinya untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas murid  dalam proses pembelajaran. Hal inilah yang mendorong para pendidik untuk mengubah bentuk kegiatan pembelajarannya.
Dalam proses pelaksanaan pembelajaran, guru merupakan faktor  utama dalam kegiatan belajar mengajar. Guru mempunyai peran yang sangat penting dalam kelangsungan proses pendidikan karena guru merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam setiap aktivitas pendidikan. Setiap guru seharusnya dapat mengajar di depan kelas. Bahkan mengajar itu dapat dilakukan pula dalam sekelompok murid di luar kelas atau dimana saja. Setiap guru harus pandai menerapkan model-model pembelajaran yang tepat sesuai karakter murid. Guru dan murid ibarat sebuah mata uang logam yang memiliki sisi berbeda tetapi saling mendukung satu sama lain. Guru tidak akan melaksanakan kegiatan mengajar apabila tidak memiliki murid yang perlu memperoleh pengajaran, sebaliknya murid tidak akan memperoleh pelajaran apabila tidak diberi pengajaran dan bimbingan dari guru.
Agar dapat meningkatkan pemahaman murid dalam memahami isi dari suatu bacaan, guru harus menerapkan model pembelajaran   yang tepat sehingga murid dapat lebih mudah mengerti dan menceritakan kembali serta menjawab soal-soal yang berhubungan dengan isi teks bacaan tersebut. Penulis berpendapat model pembelajaran yang tepat untuk murid di kelas IV SDK Krado dalam pelajaran bahasa Indonesia khususnya konsep membaca pemahaman bacaan adalah model Cooperative Integrate Reading and Composition (CIRC). Model ini digunakan untuk melatih murid dalam suatu kelompok yang heterogen untuk membaca secara bergantian, menemukan kata kunci dari wacana tersebut serta memberikan tanggapan terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya atau menceritakan kembali isi wacana yang diberikan dengan mudah.
Dari masalah-masalah yang timbul dalam proses pembelajaran yang telah disebutkan di atas, maka penulis berpendapat mengganti metode pembelajaran yang terdahulu dengan suatu model pembelajaran yang dianggap lebih cocok  dan mempermudah murid dalam memahami isi teks bacaan. Oleh karena itu penulis mencoba menerapkan model Cooperative Integrate Reading and Composition untuk meningkatkan kemampuan murid dalam  membaca pemahaman di kelas IV SDK Krado.
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas maka dalam penelitian ini peneliti memberikan judul “Efek Penerapan Model Cooperatif Integrate Reading and Composition (CIRC) Untuk Peningkatan Pemahaman Membaca Intensif Murid Kelas IV SDK Krado”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah peningkatan pemahaman membaca intensif murid dengan diterapkannya model CIRC?
2.      Bagaimanakah pengaruh (efek)  metode CIRC terhadap motivasi belajar murid?

C.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Ingin mengetahui peningkatan pemahaman membaca intensif murid setelah diterapkannya pembelajaran model CIRC.
2.      Ingin mengetahui pengaruh (efek)  motivasi belajar murid setelah diterapkan pembelajaran model CIRC.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat teoritis
Diharapkan hasil penelitian ini bisa menjadi bahan dan acuan untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
2.      Manfaat praktis
a.       Bagi murid
1)      Meningkatnya kemampuan murid dalam pemahaman bacaan.
2)      Mengembangkan kemampuan murid untuk menyelesaikan sosal-soal yang berhubungan dengan bacaan serta dapat menceritakan kembali bahan bacaan tersebut.
3)      Meningkatkan hasil belajar murid



b.      Bagi guru
1)      Memberikan informasi kepada guru tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran bahasa indonesia.
2)      Sebagai salah satu bahan pustaka bagi guru agar dapat meningkatkan hasil belajar murid.
c.       Bagi sekolah
Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar murid khususnya pelajaran bahasa indonesia.

KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Model Pembelajaran CIRC
CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and composition, termasuk salah satu model pembelajaran Cooperative Learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas tinggi sekolah dasar.
 Terjemahan bebas dari Cooperative Integrate Reading and Composition (CIRC) adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif-kelompok. Model pembelajaran CIRC  (koperatif terpadu membaca dan menulis) merupakan model pembelajaran khusus mata pelajaran bahasa indonesia dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau, tema sebuah wacana/kliping.
Pembelajaran CIRC dikembangkan oleh Stevans Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan  suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting.
Model pembelajaran CIRC ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu. Menurut Forgati (1991) berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran terpadu dapat dikelompokan menjadi:
(1)      Model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi Model Connected      (keterhubungan) dan model nested.
(2)      Model antar bidang studi yang meliputi model Sequenced (urutan), Model Shared (perpaduan), Model Webbed (jarring laba-laba), Model Theaded (bergalur) dan Model Integreted (terpadu).
(3)      Model lintas murid.
Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap murid bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide  untuk memahami konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang baru dan pemahaman yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik  murid berinteraksi sosial  dengan lingkungan.
Prinsip belajar terpadu ini sejalan dengan empat pilar pendidikan  yang digariskan UNESCO dalam kegiatan pembelajaran. Empat pilar itu adalah “belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam kebersamaan ( learning to live together), (Depdiknas, 2002).
Jadi CIRC merupakan  program yang komprehensif untuk mengajari pembelajaran membaca, menulis dan seni berbahasa pada kelas yang lebih tinggi di sekolah dasar.




1.      Komponen-komponen dalam model pembelajaran CIRC
Model pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno  (2005:3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain:
a.             Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 murid.
b.             Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai raport agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan  pada bidang tertentu.
c.             Student creative, melaksanakan tugas dalam kelompok dengan menciptakan  situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
d.            Team studi, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuaan kepada kelompok yang membutuhkannya.
e.             Team scorermand team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan pengharagaan  terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
f.              Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
g.             Facts test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
h.             Whole-class units, yaitu pemberian atau  rangkuman materi oleh guru diakhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.




2.      Kegiatan pokok pembelajaran CIRC
Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu:
a.             Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal.
b.             Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah.
c.             Saling membuat ikhtisar / rencana penyelesaian soal pemecahan masalah.
d.            Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut.
e.             Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno,2005:4).

Model pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu menurut pertama kali dikembangkan oleh (Steven and Slavin, 1981) dengan langkah-langkah:
1)            Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
2)            Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran
3)            Murid bekerja sama saling membacakan dan memberikan tanggapan  terhadap wacana dan ditulis pada lembar kertas.
4)            Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
5)            Guru memberikan penguatan
6)            Guru dan murid bersama-sama membuat kesimpulan
7)            Penutup




3.      Kelebihan model pembelajaran CIRC.
Kelebihan dari model pembelajaran terpadu atau CIRC  antara lain:
a.       Pengalaman dan kegiatan belajar murid akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak;
b.      Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat murid dan kebutuhan anak;
c.       Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi murid sehingga hasil belajar murid dapat bertahan lebih lama;
d.      Pembelajaran terpadu dapat menumbuhkembangkan keterampilan berpikir anak;
e.       Pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis (bermanfaat) sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingkungan anak;
f.         Pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan motivasi belajar murid kearah belajar yang dinamis, optimal dan tepat guna;
g.      Menumbuhkembangkan interaksi sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain;
h.      Membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan  aspirasi guru dalam mengajar (Saifulloh, 2003).

4.      Kekurangan model pembelajaran CIRC.
Kekurangan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), adalah selama diskusi kelompok berlangsung ada kecenderungan permasalahan materi semakin meluas hingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.




B.     Pengertian Membaca Intensif
Membaca intensif merupakan kegiatan membaca bacaan secara teliti dan seksama dengan tujuan memahaminya secara rinci. Membaca intensif  merupakan salah satu upaya untuk  menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca kritis. Tarigan (1990:35) mengutip pendapat Brook, menyatakan bahwa, membaca intensif merupakan studi seksama, telaah teliti, serta pemahaman terinci terhadap suatu bacaan. Yang termasuk membaca intensif ini adalah membaca pemahaman.
Menurut Tarigan (1990:37) ada tiga jenis keterampilan membaca pemahaman yaitu : 1). Membaca Literal, 2). Membaca kritis, dan 3). Membaca Kreatif.
1.        Kemampuan membaca Literal adalah kemapuan membaca untuk mengenal dan menangkap isi bacaan yang tertera secara tersurat (Eksplisit). Artinya pembaca hanya menangkap informasi yang tercetak literal (tampak jelas) dalam bacaan. informasi tersebut ada dalam baris-baris bacaan (Reading The Lines). pembaca tidak mengkap makna yang lebih dalam lagi, yaitu makna di balik baris-baris. Yang termasuk di dalam keterampilan membaca literal antara lain keterampilan :
a.         Mengenal kata,kalimat dan paragraf.
b.        Mengenal unsur detail, unsur perbandingan dan unsur utama.
c.         Mengelan unsur hubungan sebab akibat.
d.        Menjawab pertanyaan.
e.         Menyatakan kembali usur perbandingan, unsur urutan, dan unsur sebab akibat.
2.        Kemampuan membaca Kritis merupakan kemampuan pembaca untuk mengolah bahan bacaan secara Kritis dan menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik maknan tersurat, maupun makna tersirat. Mengolah bahan bacaan secara Kritis artinya, dalam membaca seorang pembaca tidak hanya menangkap makna tersurat (Makna baris-baris bacaan, (Reading The Lines), tetapi juga menemukan makna antar baris (Reading Between The Lines), dan makna di balik baris (Reading Beyons The Lines).
3.        Kemampuan Membaca kreatif  adalah kegiatan membaca yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar baris tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.
Selaian ketiga kemampuan membaca pemahaman tersebut di atas, yang termasuk membaca pemahaman antara lain juga membaca cepat. Jenis membaca ini bertujuan agar pembaca dalam waktu singkat dapat memahami isi bacaan secara cepat dan cermat. Jenis membaca ini dilaksanakan tanpa suara (membaca dalam hati).Bahan bacaan yang dibrikan untuk kegiatan ini harus baru (belum perna diberikan kepada siswa) dan tidak boleh terdapat banyak kata-kata sukar, ungkapan-ungkapan yang baru, atau kalimat yang kompleks. kalau ternyata ada guru harus memberikan penjelasan terlebih dahulu agar murid terbebas dari kesulitan memahami isi bacaan karena terganggu oleh masalah kebahasaan.


PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A.    Subyek, tempat dan waktu penelitian
1.         Subyek
Sesuai dengan fokusnya, maka yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah delapan orang murid SDK Krado, yang terdiri dari 5 orang mrurid laki-laki dan 3 orang murid perempuan.
2.         Tempat
Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah SDK Krado yang terletak di Desa Ipir Kecamatan Bola Kabupaten Sikka.
3.         Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan yaitu dari bulan Januari sampai bulan Maret 2013.

B.     Desain prosedur perbaikan pembelajaran
Prosedur perbaikan pembelajaran dilakukan  dalam berbagai tahap seperti berikut :
1.      Tahap perencanaan perbaikan pembelajaran
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Kegiatan pada tahap ini adalah :
·         Penyusunan RPP dengan model pembelajaran yang direncanakan dalam penelitian.
·         Menyusun lembar masalah/lembar kerja murid sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai.
·         Membuat soal test yang akan diuji untuk mengetahui hasil pembelajaran murid.
·         Membentuk kelompok yang bersifat heterogen baik dari segi kemampuan akademis, jenis kelamin maupun etnis.
·         Memberikan  penjelasan pada murid  mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran yang akan dilaksanakan.



2.    Pelaksanaan tindakan.
a.       Dalam pelaksanaan penelitian guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, murid dibimbing untuk belajar membaca pemahaman secara individual maupun kelompok dengan model pembelajaran CIRC.
   Adapun langkah langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang murid secara  heterogen.
Ø  Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
Ø  Murid bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
Ø  Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
Ø  Guru dan murid membuat kesimpulan bersama.
b.      Kegiatan penutup
Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis untuk mengevaluasi hasil belajar murid selama proses pembelajaran berlangsung.
3.      Tahap observasi.
Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan hendaknya pengamat melakukan kolaborasi dalam pelaksanaannya.
4.      Tahap Refleksi
Refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah atau belum terjadi, apa yang dihasilkan, mengapa hal itu terjadi dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi untuk menetapkan langkah selanjutnya  dalam upaya untuk  menghasilkan perbaikan pada siklus berikutnya.



C.    Teknik analisis data
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai murid juga untuk memperoleh respon murid terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas murid selama proses pembelajaran.
Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan murid setelah proses belajar mengajar  dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir pelajaran.
          Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
1.      Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh murid, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah murid yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
                        Dengan           :      = Nilai rata-rata
                                          Î£ X            = Jumlah semua nilai murid
                                             Î£ N         = Jumlah murid
2. Untuk ketuntasan belajar
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang murid telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1.         Kegiatan Pra Siklus
a.      Perencanaan
·         Penyusunan RPP dengan model pembelajaran yang direncanakan dalam penelitian.
·         Menyusun lembar masalah/lembar kerja murid sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai.
·         Membuat soal test yang akan diuji untuk mengetahui hasil pembelajaran murid.
b.      Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk Pra siklus dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2013 di kelas IV dengan jumlah murid 8 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
c.    Pengamatan
Pada akhir proses belajar mengajar murid diberi tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan murid dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel IV.1 :  Hasil Tes Formatif murid Pada Pra Siklus
No
    Nama Murid
Nilai
KKM
Ketuntasan
T
TT
1
Petrus Yodi
55,5
65

2
Yohanes Alfandi
66,7
65

3
Maria Oliva Diana
55,5
65

4
Yoseph Aryanto
77,8
65

5
Maria Nona Meti
77,8
65

6
Fransiska Infonia
44,4
65

7
Yoseph Hertanto
77,8
65

8
Yoseph Yefrison Gewar
77,8
65

Jumlah
533,3

5
3
Nilai rata-rata
66,7



Jumlah skor 533,3
Jumlah Skor Maksimal Ideal 800
Rata-Rata Skor Tercapai 66,7
Sumber: Data primer yang telah diolah
Keterangan:
T                                                       : Tuntas
TT                                                      : Tidak Tuntas
Jumlah murid yang tuntas                 : 5
Jumlah murid yang belum tuntas      : 3

Tabel IV.2. Rekapitulasi Hasil Tes Pra Siklus
No
Uraian
Hasil Pra Siklus
1
2
3
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah murid yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
66,7
5
62,5

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar murid adalah 66,7 dan ketuntasan belajar mencapai 62,5% atau  ada 3 dari 8 murid yang belum tuntas belajar.  Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada kegiatan pra siklus ini secara klasikal murid  belum tuntas  belajar, karena  presentase murid belum mencapai kriteria yang telah ditetapkan yaitu harus mencapai 65%. Hal ini disebabkan karena murid merasa bosan dengan metode yang digunakan guru.
d.      Refleksi
Ada pun keunggulan dan kelemahan selama kegiatan pembelajaran pra siklus adalah sebagai berikut:
Ø  Kelebihan
-       Pengelolaan kelas sudah baik
-       Cara mengajar/acting di depan kelas sudah baik
-       Materi yang dipilih sesuai dengan kemampuan dasar murid.
Ø  Kelemahan
-       Ada 3 (tiga) orang yang belum bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
-       Penggunaan metode belum tepat

Dari hasil refleksi pembelajaran pra siklus  perlu ditindaklanjuti bagaimana agar murid yang belum tuntas mampu menjawab pertanyaan dengan baik, maka peneliti mencari solusi dan mencoba menerapkan sebuah model pembelajaran yang dikenal dengan model CIRC pada kegiatan berikutnya.

2.         Kegiatan Silkus I
a.      Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran Siklus I, LKS, soal tes formatif dan alat-alat pengajaran yang mendukung yaitu menyiapkan buku-buku pembelajaran yang relevan.



b.      Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2013 di kelas IV dengan jumlah murid 8 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada Pra siklus, sehingga kesalahan atau kekurangan pada Pra siklus tidak terulang lagi pada siklus 1 Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
c.       Pengamatan
Pada akhir proses belajar mengajar murid diberi tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan murid selama proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif.. Adapun data hasil penelitian pada siklus adalah sebagai berikut:
Tabel IV.3 :  Hasil Tes Formatif murid Pada Siklus I
No
Nama murid
Nilai
 KKM
Ketuntasan
T
TT
1
Petrus Yodi
70
65

2
Yohanes Alfandi
74
65

3
Maria Oliva Diana
70
65

4
Yoseph Aryanto
68
65

5
Maria Nona Meti
80
65

6
Fransiska Infonia
64
65

7
Yoseph Hertanto
70
65

8
Yoseph Yefrison Gewar
86
65

Jumlah skor 582
Jumlah Skor Maksimal Ideal 800
Rata-Rata Skor Tercapai 72,75
Sumber: Data primer yang telah diolah


Keterangan:
T                                                         : Tuntas
TT                                                        : Tidak Tuntas
Jumlah murid yang tuntas                   : 7
Jumlah murid yang belum tuntas        : 1

 Tabel IV.4. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
No
Uraian
Hasil Siklus I
1
2
3
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
72,75
7
87,5

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan Model CIRC diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar murid adalah 72,75 dan ketuntasan belajar mencapai 87,5% atau  ada 1 dari 8 murid yang belum tuntas belajar.  Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama ini secara klasikal murid sudah mengalami peningkatan  belajar, karena murid yang memperoleh nilai diatas standar yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena murid merasa termotivasi dengan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan menerapkan model pembelajaran CIRC.
d.      Refleksi
Ada pun keunggulan dan kelemahan pada proses pembelajaran siklus I yaitu:
Ø  Keunggulan
§  Murid semangat dalam mengikuti pelajaran
§  Materi yang dipilih sesuai dengan kemampuan dasar murid
§  Nilai hasil belajar murid semakin meningkat
§  Murid dapat menjawab pertanyaan dengan baik sesuai isi bacaan
Ø  Kelemahan
§  Penataan kelas belum tepat
§  Penggunaan waktu belum maksimal

3.         Kegiatan Pembelajaran Siklus II
a.      Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran Siklus II, LKS , soal tes formatif,  dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b.      Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2013 di kelas IV dengan jumlah murid 8 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar
c.       Pengamatan
Pada akhir proses belajar mengajar murid diberi tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan murid dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif. Adapun data hasil peneitian pada siklusII adalah sebagai berikut:



Tabel IV.5 : Hasil Tes Formatif murid Pada Siklus II
No
Nama murid
Nilai
 KKM
Ketuntasan
T
TT
1
Petrus Yodi
70
65

2
Yohanes Alfandi
78
65

3
Maria Oliva Diana
78
65

4
Yoseph Aryanto
70
65

5
Maria Nona Meti
80
65

6
Fransiska Infonia
67
65

7
Yoseph Hertanto
70
65

8
Yoseph Yefrison Gewar
80
65

Jumlah skor 593
Jumlah Skor Maksimal Ideal 800
Rata-Rata Skor Tercapai 74,12

Keterangan:     T                                  : Tuntas
TT                                                        : Tidak Tuntas
Jumlah murid yang tuntas                   : 8
Jumlah murid yang belum tuntas        : -

Tabel IV.6. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
No
Uraian
Hasil Siklus II
1
2
3
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah murid yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
74
8
100

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan Model CIRC diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar murid adalah 74,12 dan ketuntasan belajar mencapai 100% atau dari 8 murid sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus kedua secara klasikal murid sudah tuntas belajar, karena murid yang memperoleh nilai diatas standar yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena murid merasa senang dengan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan menerapkan model pembelajaran CIRC.
d.      Refleksi
Ada pun keunggulan dan kelemahan pada kegiatan pembelajaran siklus II yaitu:
1.        Keunggulan
§   Murid  semangat dalam mengikuti pelajaran
§   Nilai murid semakin meningkat
§   Pengelolaan kelas sudah baik
§   Penggunaan waktu sudah maksimal
2.        Kelemahan
§   Fasilitas pembelajaran belum mamadai.

2.      Kegiatan Pembelajaran Siklus III
a.      Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran Siklus II, LKS , soal tes formatif,  dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b.    Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal  04 Maret 2013 di kelas IV dengan jumlah murid 8 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar



c.    pengamatan
Pada akhir proses belajar mengajar murid diberi tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan murid dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif. Adapun data hasil peneitian pada siklus III adalah sebagai berikut:
Tabel 7 : Hasil Tes Formatif Murid Pada Siklus III

No

Nama Murid
Nilai
KKM
Ketuntasan
T
TT
1
Petrus Yodi
75
65

2
Yohanes Alfandi
90
65

3
Maria Oliva Diana
78
65

4
Yoseph Aryanto
87
65

5
Maria Nona Meti
100
65

6
Fransiska Infonia
75
65

7
Yoseph Hertanto
75
65

8
Yoseph Yefrison Gewar
100
65

Jumlah
680

8
0
Nilai rata-rata
85



Jumlah skor 680
Jumlah Skor Maksimal Ideal 800
Rata-Rata Skor Tercapai 85
   
Keterangan:   
T                                                          : Tuntas
TT                                                        : Tidak Tuntas
Jumlah Murid yang tuntas                   : 8
Jumlah Murid yang belum tuntas        : -



Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
No
Uraian
Hasil Siklus III
1
2
3
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah Murid  yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
85
8
100

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan Model CIRC diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar Murid adalah 85 dan ketuntasan belajar mencapai 100% atau dari 8 Murid sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus Ketiga secara keseluruhan murid sudah tuntas belajar, karena Murid yang memperoleh nilai diatas standar yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena Murid merasa senang dengan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan menerapkan model pembelajaran CIRC.
d.      Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan Model CIRC.  Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:
1)        Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar.
2)        Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.
3)        Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
4)        Hasil belajar murid pada siklus III mencapai ketuntasan.




3.      Kesimpulan
Dilihat dari hasil kegiatan yang telah dilakukan bardasarkan hasil evaluasi pembelajaran yaitu mulai dari siklus I  sampai siklus III yang menggunakan Model CIRC ternyata dapat meningkatkan  pemahaman murid pada pelajaran bahasa Indonesia aspek membaca jika dibandingkan dengan nilai pembelajaran pra siklus yang tidak menggunakan Model CIRC. Jadi model pembelajaran CIRC sangat cocok untuk karakteristik murid tingkat sekolah dasar.

B.     Pembahasan Hasil Perbaikan Pembelajaran
1.             Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran CIRC  memiliki dampak positif dalam peningkatan pemahaman murid dalam membaca intensif. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman murid terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan III), yaitu  nilai rata-rata kelas masing-masing dibulatkan menjadi 73,75, dan 85. Pada siklus III ketuntasan belajar Murid secara keseluruhan  telah tercapai.
2.             Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas Murid dalam proses pembelajaran Model CIRC dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar murid yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata Murid pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3.             Aktivitas Guru dan Murid Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas Murid dalam proses pembelajaran membaca pada pokok bahasan menemukan kalimat utama dalam paragraf yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar murid/antara murid dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas murid dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langah-langkah pembelajaran model CIRC dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati murid dalam mengerjakan kegiatan LKS/menemukan konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
A.    Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1)      Penerapan model pembelajaran CIRC dapat  dilaksanakan dengan baik sesuai rencana pembelajaran
2)      Penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan murid dalam menemukan ide pokok pada setiap paragraf.
Model pembelajaran ini sangat bagus dipakai karena dengan menggunakan model ini  murid dapat memahami secara langsung peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan dengan materi yang di jelaskan.

B.     Saran Dan Tindak Lanjut.
Saran peneliti ditunjukan kepada:
1)      Bagi murid, agar dapat mengembangkan keterampilan membaca pemahaman menemukan ide pokok dari setiap paragraf.
2)      Bagi guru, agar  model pembelajaran CIRC dalam pembelajaran bahasa indonesia pada materi lain.
3)      Bagi peneliti lain , mencoba model ini dengan materi lain dan dapat mengembangkan penelitian ini lebih baik lagi.




DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, M. Toha, dkk. (2009). Materi Pokok Metode Penelitian  IDIK 4306 edisi 2 cetakan 11. Jakarta : Universitas Terbuka

Arikunto, S. (1982). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Bina Aksara.

Fajri, M. Zul,dkk (2008). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Semarang:
           Aneka Ilmu.

Gordon, (2002). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Rineka

Kamidjan, 1996.  Membaca Teori. Surabaya: JPBSI FPBS IKIP Surabaya

Mulyati, Yeti, dkk. (2008) Materi Pokok Katerampilan Bahasa Indonesia PDGK 4101 Cet.3. Jakarta : Universitas Terbuka

Nasution, S. (2000). Didaktik Azas Mengajar. Bandung: bumi aksara.

Suriansyah, A. Dkk. (2009) Bahan ajar cetak strategi pembelajaran. Banjarmasin

Suyitno, Amin (2005) Mengadopsi Pembelajaran CIRC Dalam Meningkatkan Keterampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. Seminar nasional F.MIPA UNNES

Syafi’ie, Imam. 1994. Pengajaran Membaca Terpadu. Bahan kursus pedalaman materi guru inti PKG Bahasa dan Sastra Indonesia. Malang: IKIP

modelpembelajarankooperatif.blogspot.com/2012/08/circ.html
Diposkan oleh arfiyadi ahsan di 15.37 diakses 05 Nov 2013

Webliogask.blogspot.com/2012/08 model pembelajaran CIRC